Home / ARTIKEL / BACA AL-QUR’AN SEBELUM KAJIAN TERMASUK “TASYABBUH” ??!

BACA AL-QUR’AN SEBELUM KAJIAN TERMASUK “TASYABBUH” ??!

Dulu, atau mungkin sampai sekarang, masih ada saja diantara kita yang menganggap bahwa membaca Al-Qur’an sebelum kajian atau liqa’ (pertemuan) dimulai termasuk perkara bid’ah. Sebagian lagi menganggap ini sebagai ‘sunnah’ kelompok haraki (?!). Semasa SMA, saya pernah mengikuti liqa’ dengan teman-teman ‘aktifis’ waktu itu. Setiap akan dimulai kajian, biasanya diawali dengan membaca Al-Qur’an yang dilakukan oleh salah satu peserta liqa’. Pada akhirnya, tradisi ini lebih kental menjadi ‘milik’ mereka.

Hal ini juga sering saya jumpai di pengajian-pengajian saudara kita dari Aswaja (NU). Setiap akan mulai pengajian, biasanya juga diawali dengan pembacaan kitab suci Al-Qur’an. Saya ingat sekali waktu masih usia SD sering menghadiri pengajian-pengajian mereka, seperti acara “Halal bi Halal”, dan yang lainnya.

Sehingga ketika ada yang mengamalkannya, dituduh telah tasyabbuh (meniru) orang-orang haraki atau NU. Kemudian –seperti biasanya- membawakan hadits “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan kaum tersebut” (Al-Hadits). Kasihan, hadits ini sering ‘diperlakukan secara dzalim’ oleh sebagian pihak. Haditsnya benar, tapi pemahamannya yang rusak. Yang penting terkesan “kokoh” walau asal comot dan tidak paham dengan kandungan fiqh yang ada di dalamnya.

Apa iya itu tasyabbuh?! Coba kita baca dengan seksama ucapan dari salah seorang ulama’ SALAFY, yaitu Al-Imam Al-Qadhi Badrud Din Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dillah bin Jama’ah Al-Kinani Asy-Syafi’i –rahimahullah- ( 639 – 733 H) :

“KEMPAT : Sebelum masuk dalam pembahasan, atau pengajaran (taklim), hendaknya memulai dengan membaca sebagian ayat dari kitabullah (Al-Qur’an) dalam rangka untuk mengharap berkah dan menganggap baik hal itu, sebagaimana adat/tradisi yang telah berjalan…”(lihat foto kitab terlampir)

Kalimat di atas beliau sampaikan saat menjelaskan fasal “ADAB SEORANG ULAMA’ DALAM MAJELIS ILMUNYA”. Menurut beliau, ada-adab majelis ilmu yang selayaknya dilakukan oleh seorang ulama’ ada dua belas, yang keempat apa yang disebutkan dalam kalimat penukilan di atas. Yang saya tahu, di abad keenam kelompok-kelompok haraki (?) dan NU belum pada lahir. Lalu bagaimana orang yang mengamalkannya dituduh meniru mereka ? kalau begini, siapa yang meniru dan siapa yang ditiru ?

Salah seorang ulama’ salafy di negeri Yaman, yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi –rahimahullah- juga saya dapatkan beliau beberapa kali mengamalkan hal ini. Beliau salah seorang ulama’ rujukan umat, bahkan menjadi rujukan para ulama’ salafy di negeri Yaman, terkhusus setelah wafatnya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi –rahimahullah-

Muharram 1440 H
Abdullah Al-Jirani

Check Also

BENARKAH DIHARAMKAN MEMAKAI SENDAL DI KUBURAN ??

Oleh : Abdullah Al Jirani Jumhur ulama’ (mayoritas ulama’) dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi’iyyah berpendapat …

BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT WAJIB

Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf AN-NAWAWI–rahimahullah- (wafat : 676 H) pernah ditanya tentang hukum …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1
×
Assalamu alaikum
Ada yang bisa kami bantu....?