Home / ARTIKEL / STUDI HADITS “LAUTAN MINTA IJIN TIGA KALI SEHARI UNTUK MENENGGELAMKAN DARATAN”

STUDI HADITS “LAUTAN MINTA IJIN TIGA KALI SEHARI UNTUK MENENGGELAMKAN DARATAN”

Oleh : Abdullah Al Jirani

Membahas masalah ini, perlu kiranya dilakukan secara lengkap. Tidak hanya sisi sanadnya saja, akan tetapi juga dari sisi hukum boleh tidaknya mengutip atau menyampaikannya dalam rangka memberikan tarhib (menakut-nakuti). Jika kita hanya membeberkan dari sisi sanadnya saja, ada kesan seolah orang yang mengutip atau menyampaikannya tersalah. Padahal belum tentu demikian. Yang kami saksikan, sebagian da’i baru membahas dari sisi pertama saja, belum dilanjutkan kepada sisi kedua. Dua pembahasan ini sebenarnya bisa dikatakan ‘satu paket’. Jika sampaikan beriringan (komplit), insya Allah akan memberikan pecerahan yang sempurna kepada umat.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam “Musnad”-nya , dari Umar bin Al-Khathab –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

لَيْسَ مِنْ لَيْلَةٍ إِلَّا وَالْبَحْرُ يُشْرِفُ فِيهَا ثَلاثَ مَرَّاتٍ عَلَى الْأَرْضِ، يَسْتَأْذِنُ اللهَ فِي أَنْ يَنْفَضِخَ عَلَيْهِمْ، فَيَكُفُّهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak ada satu malam-pun, kecuali di dalamnya lautan mendekat ke bumi tiga kali, meminta ijin kepada Allah untuk membanjiri/menenggelamkan mereka. Maka Allah -Azza wa Jalla- menahannya.” [Musnad : 303/1/395]

Hadits ini, secara sanad dhaif (lemah). Ada beberapa sisi kelemahannya, yaitu : (1). Guru Al-‘Awwam bin Hausyab seorang rawi yang majhul (tidak diketahui), (2). Abu Shalih maula Umar bin Al-Khathab juga majhul (tidak diketahui). (simak : Tahqiqul Musnad oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth –rahimahullah- : 1/395 penerbit Muassasah Ar-Risalah tahun 1412 H).

Jika kita telah ketahui, bahwa hadits di atas lemah, kita akan lanjutkan ke masalah yang kedua, yaitu bolehkah menyampaikan atau mengutip hadits ini dalam bab tarhib (menakut-nakuti) ? Jumhur ulama’ (mayoritas ulama’) berpendapat bolehnya menyampaikan atau mengamalkan hadits dhaif (lemah) dalam bab zuhud, raqaiq, targhib dan tarhib, adab, keutamaan amalan, hukuman, dan yang semakna dengan hal ini. Adapun dalam bab selain itu, seperti dalam perkara hukum halal-haram dan masalah aqidah, maka tidak diperbolehkan.

Hal ini bisa kita saksikan dari tindakan para imam ahli hadits dimana mereka tidak menyaratkan keshahihan atau kehasanan di dalam kitab-kitab dan riwayat-riwayat mereka dalam pembahasan adab, zuhud dan yang serupa dengan hal itu. Bahkan mereka mengeluarkan di dalam kitab-kitab tersebut hadits-hadits lemah yang cukup banyak. Sebagaimana hal itu dapat disaksikan dalam kitab “Az-Zuhud” karya Imam Ahmad, kitab “Az-Zuhud wa Ar-Raqoiq” karnya Imam Abdullah bin Al-Mubarok –rahimahumallohu Ta’ala- serta kitab-kitab yang banyak dari selain keduanya.

Dalam “Shahih Al-Bukhari”, Imam Al-Bukhari begitu ketat dalam periwayatan hadits-hadits hukum dan aqidah. Tidaklah beliau menyebutkan di dalamnya kecuali hadits-hadits shahih saja. Namun tidak begitu dalam kitab “Al-Adabul Mufrad”. Beliau menyebutkan sejumlah hadits-hadits dhaif di dalamnya. Karena kitab ini berbicara dalam masalah adab. Hadits-hadits dhaif itu-pun beliau buatkan judul bab yang merupakan hasil istimbath beliau darinya.

Imam An-Nawawi –rahimahullah- (wafat : 676 H) berkata :

قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْحَدِيثُ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ صَحِيحٌ وَحَسَنٌ وَضَعِيفٌ: قَالُوا وَإِنَّمَا يَجُوزُ الِاحْتِجَاجُ مِنْ الْحَدِيثِ فِي الْأَحْكَامِ بِالْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَوْ الْحَسَنِ: فَأَمَّا الضَّعِيفُ فَلَا يَجُوزُ الِاحْتِجَاجُ بِهِ فِي الْأَحْكَامِ وَالْعَقَائِدِ وَتَجُوزُ رِوَايَتُهُ وَالْعَمَلُ بِهِ فِي غَيْرِ الْأَحْكَامِ كَالْقَصَصِ وَفَضَائِلِ الْأَعْمَالِ وَالتَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ

“Para ulama’ menyatakan, hadits ada tiga macam : shahih, hasan, dan dhaif (lemah). Mereka berkata : Berhujjah dalam masalah hukum-hukum hanyalah dibolehkan dengan hadits shahih atau hasan. Adapun hadits dhaif, maka tidak boleh dipakai berhujjah dalam masalah hukum dan aqidah. Akan tetapi BOLEH untuk meriwayatkan dan mengamalkannya pada selain masalah hukum-hukum seperti kisah-kisah, fadhailul a’mal (keutamaan amalan), targhib (pemberian dorongan), dan tarhib (pemberian ancaman/untuk menakut-nakuti).” [Majum’ Syarhul Muhadzdzab : 1/59].

Bahkan dalam halaman lain, beliau –rahimahullah- menukil adanya ittifaq (kesepatakan ulama) akan bolehnya hal ini. Beliau berkata : 

وقد قدمنا اتِّفَاقَ الْعُلَمَاءِ عَلَى الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ دُونَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ

“Sungguh kami telah kemukakan kesepakatan ulama’ (akan bolehnya) beramal dengan hadits dhaif (lemah) dalam bab fadhailul a’mal (keutamaan amalan), tanpa (adanya pembolehan) dalam masalah halal dan haram.”[ Majum’ Syarhul Muhadzdzab : 3/248].

Syaikh Muhaddits Abdul Fattah Abu Guddah -rahimahullah- berkata : “Imam Al-Khathib Al-Baghdadi –rahimahullah- telah meriiwayatkan dalam kitab “Al-Kifayah” dengan sanadnya dari Imam Ahmad bin Hambal –rahimahullah-, sesungguhnnya beliau berkata : “Apabila kami meriwayatkan dari Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam- dalam bab halal dan haram, dalam sunah-sunah dan hukum-hukum, maka kami sangat ketat dalam masalah sanad-sanadnya. Tapi apabila kami meriwayatkan dari Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- dalam fadhoilul a’mal (keutamaan amalan-amalan), dan dalam apa yang tidak meletakkan suatu hukum serta tidak mengangkat suatu hukum, maka bermudah-mudah dalam sanad-sanadnya.” Al-Baihaqi telah meriwayatkan dalam “Al-Madkhal Lid Dalailun Nubuwah” dengan sanadnya dari Imam Abdurrahman bin Mahdi, sesungguhnya beliau berkata : “Apabila kami meriwayatkan dari masalah pahala, hukuman, dan keutamaan amalan-amalan, kami bermudah-mudah dalam sanad-sanadnya dan memberikan toleransi dalam rawi-rawinya. Tapi jika kami meriwayatkan dalam masalah halal dan haram serta dalam masalah hukum-hukum, maka sangat ketat dalam masalah sanadnya dan kami saring benar rawi-rawinya.” [Syaikh Muhaddits Abdul Fattah Abu Guddah dalam "taqdim” beliau kepada kitab "Al-Adabul Mufrad”].

شَرْطُ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ أَنْ لَا يَكُونَ شَدِيدَ الضَّعْفِ، وَأَنْ يَدْخُلَ تَحْتَ أَصْلٍ عَامٍّ، وَأَنْ لَا يُعْتَقَدَ سُنِّيَّتُهُ بِذَلِكَ الْحَدِيثِ

Menurut Al-Khathib Asy-Syirbini –rahimahullah-, syarat mengamalkan hadits dhaif dalam fadhailul a’mal ada tiga : 1). Kelemahannya tidak parah, 2). Masuk di bawah asal/induk (dalil ) yang bersifat umum, 3). Tidak menyakini akan kesunnahannya dengan hadits dhaif tersebut. [ Mu[ Mughni Muhtaj : 1/194 ]>

Selain imam Ahmad, hadits ini juga dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir-nya ketika menjelaskan firman Allah dalam surat “Ath-Thur” ayat : 6 (Tafsir Ibnu Katsir : 7/400]. Dengan demikian, mengutip atau menyampaikan hadits di atas dalam rangka untuk memberikan tarhib kepada manusia merupakan perkara yang diperbolehkan.

Sehingga menurut hemat kami, menyalahkan secara sepihak orang-orang yang menyampaikannya apalagi diiringi dengan kalimat-kalimat ejekan seperti “bodoh”, atau “tukang dongeng”, atau yang semisalnya merupakan perkara yang tidak pantas. Karena konsekwensi ucapan ini, juga akan mengenai para imam, seperti imam Ahmad, Ibnu katsir, dan selainnya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita sekalian. Amin…

Karanganyar,26 Rabi’ul Akhir 1440 H

Check Also

BACA AL-QUR’AN SEBELUM KAJIAN TERMASUK “TASYABBUH” ??!

Dulu, atau mungkin sampai sekarang, masih ada saja diantara kita yang menganggap bahwa membaca Al-Qur’an …

BENARKAH DIHARAMKAN MEMAKAI SENDAL DI KUBURAN ??

Oleh : Abdullah Al Jirani Jumhur ulama’ (mayoritas ulama’) dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi’iyyah berpendapat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1
×
Assalamu alaikum
Ada yang bisa kami bantu....?